Selasa, 22 Oktober 2013
Kuku Cinta
Buat Istriku
(Mengasuh tanpa lelah)
Senin, 03 Januari 2011
Kyai cinta sedang jatuh Cinta
Menahan rindu begitu berat
Diterpa badai cinta
Terombang ambing di samudera getar hati
Sang kyai…Sang Ustadz… kalah…
tunduk dan pasrah
Kata kata tumpah ruah
Bagaikan air bah
Lalu hilang kemana entah
akal bijak menjadi tumpul
otak pindah ke dengkul
Berjalan tak bermata
berlari tidak bekaki
Berenang tak bertepi
Berperahu tak bernakoda
Hilang haluan…
Ingin saja tenggelam
Pingsan terdampar di pantai
Ketika bangun kuingin pulau impian itu
Tidak lagi dalam mimpi
Aku bukan diriku lagi
Seperti tak kukenali diri ini
Bengkalis, 3 Januari 2011
Jumat, 03 Desember 2010
Hidayah
Dia memilih yang disayangi dengan rahmat-Nya
Dituntun berjalan menuju cahaya-Nya
Cahaya-Nya sempurna cahaya-Nya Bumi Nabastala
Alam Semesta 'kan megah indah ‘tuk mengenal Dia
Bila keagungan-Nya disemai dalam dada
Hilang luruh seluruh duka
Hati sebening kaca bercermin dengan cahaya abadi-Nya
Kenali diri nista
Mengenal sang pencipta
Maka terhias jiwa budi mulia
Seelok penciptaan manusia
Sang makhluk sempurna
Dunia akherat
damai dan sentosa
Ulupulau, 4 Syawal 1431 H
Hati Bagaikan Pualam
Pada-Mu aku mencinta
Penuhi kotak-kotak hati sempit dengan kedamaian
Terang hatiku dengan cahaya-Mu
Putih suci mudah kuingati-Mu
Pada malam malam gelap
Terang hatiku bagai sinar matahari
Aku dzikirkan Asma-Mu
Kulalui jalan malam dengan rindu keagungan-Mu
Fajar tenang kujelang dengan istighfar
Do'a salam untuk semesta alam
Semoga hati indah bagaikan pualam
Bengkalis
27 Ramadahan 1432 H
Rabu, 17 November 2010
Hatiku Kuredam Geloranya
Mencintai atau dicintai
Atau panahku akan patah
Hatiku kuredam geloranya
Tak berani aku mengungkap nyanyaiannya
Duhai cinta yang menghanyut
Ruh dan raga ini larut
Dalam seribu warna angan
Cinta dan kekhawatiran
Aku harus bagaimana?
Wahai engkau siapa?
Yang bergetaran di hati ini
Seakan terbang ke langit
seolah terhempas
Berguling, bercampur dengan bumi,hamparan rumput
kicauan burung, desah angin
Dan semua yang kutengok elok
Mataku tak bisa lelap walau sekejap
Adakah Ia titah cinta dari PenciptaNya
Mungkin inikah disebut cinta
Cinta lama bersemi kembali
Seperti hujan setelah kemarau
Aku tak bisa lari
Bengkalis, April 2010
Selasa, 05 Januari 2010
Sepenggal Kisah Dalam Kapal Kecil Di Atas Niel (Qonatir-Tahrir)
Airnya beriak kemilau dibias lampu warna warni
Aku sedang berdiri di tepi pagar batas kapal
Musik Khaliji mengalun keras
Mengiri tarian seorang perempuan berjilbab
Ah...dia perempuan penari itu melarang penontonnya
Mengabadikan tarian gairahnya pakai kamera atawa Handy came
Aku tak tau apa alasannya
Mungkin ia malu karna berjilbab
Tapi alunan musik itu membuat lekuk pinggangnya gatal
Maka ia menari menari
Seorang perempuan pinggulnya ramping
Rambut pirangnya dikucir pita merah
Wajah cantiknya pucat
Menangis sesenggukan
Setelah menari menemani tarian perempuan berjilbab
Laki laki yang dari tadi selalu menemaninya dan memaksanya menari
menyodorkan sebatang rokok padanya lalu dihisapnya kuat kuat
berapa saat kemudian ia menggigil lemas seperti kesurupan
aku kasihan mungkin dia selalu terpaksa
Aku kembali menatapi bias lampu warna warni
Suatu ketika sungai bersejarah ini akan jadi kenanganku
Aku akan segera kembali ke tanah ayah dan ibuku
pada awal Januari tahun depan
Kairo. 30 November 2009
Jumat, 04 Desember 2009
Siapa yang mau kutatap matanya

Siapakah yang mau kutatap matanya
Dalam dingin, kencangya angin, gelapnya malam
Hati ini sunyi kawan...
Hanya yang bertakhta di langit satu satunya
Harus aku menatapNya
Lewat mata hatiku
Lalu apakah Dia suka menatapku?
Hatiku yang kotor
Mataku yang kotor
Lidahku lekat ketika akan memanggilNya
Kairo 19 November 2009
Andai Aku Harus Memilih

Katakan siapa saja jantan yang telah mencangkul ladangmu
Oh, katakan juga adakah benihnya telah berkecambah
Andai aku harus memilih
Aku pilih ladang yang belum ada gembalanya
Lebih hijau
Walau aku mencintaimu
Walau cintamu tulus untukku
Biar saja kusimpan yang berharga darimu
walau tanahmu subur tetap aku tak memilihmu
Karena sampai saat ini aku masih perjaka
Kairo 12 november 2009
Kamis, 12 November 2009
Dia Masih Bersujud Bagai Arca
dan mata anak Adam tertidur pulas
Ia menangis menggigil tubuhnya di atas sajadah
Memanggil manggil kekasih hatinya
Hingga fajar menjelang
Dia masih bersujud bagai arca
ketika azan subuh berkumandang
Ia menyelesaikan munajatnya
Malam begitu singkat baginya
belum puas bermesra dengan sang kekasih
malam malamnya adalah yang terindah
dalam setiap detik hidupnya
Di keningnya ada atsar sujud
Wajahnya bersinar lembut melembutkan hati matajiwa
Tutur katanya adalah hidayah dan taqwa
Senyumnya lenyapkan gundah
Setenang hatinya yang tak pernah resah
Risaunya pada ummat
Agar semunya selamat di negeri akherat
Memberi semangat pada tubuh tuanya ringkih
Tertatih tatih melangkah memberi ingat pada ummat
Jordan, 1 Agustus 2009
Perempuan Dalam Mimpiku
Sepi selalu menelusup dalam hati
Hadirkan sebuah wajah samar makin kukenali
Seribu mimpi pada malam malamku
Bagai bintang bintang penghias malam
Tenangkan jiwa yang lelah mengembara
Adakah engkau wujud atau hanya pahatan khayal
Bilakah kita akan bertemu menyatukan rasa ini
Harapku kau nyata adanya
Jordan, 15 agustus 2009
Minggu, 04 Oktober 2009
Bersabar Dengan Mereka
Adalah sabar harus untukku
Maafkan mereka wahai diriku
Sungguh aku yang salah
Karena aku sedang mengobati hatiku
Aku harus diam Karena lisan ini lancang
Sakitnya ada di hati
Tak hilang walau kuputuskan lidah
Jordan, 10 Agustus 2009
Aku Ingin Menangis UntukMu

Pernahkah air mata ini untukMu
Dalam haru kalbu mengingatMu
Cintaku membara menelusup dalam dada
Kata kata telah pecah tersekat di lidah
Hati ingin mengingatMu dalam sepi
Menetes air mata karena cintaMU
Agar lembut hatiku yang membatu
Hati hitam terhijab dosa dosa
Merangkak ruhku menuju cintaMU
Jordan, 25 Juli 2009
Rabu, 23 September 2009
Rihlah Imani IV
Hari hari yang tenang ini hanya aku dapati dalam rihlah imani
Cinta dan rindu sedang kulukis di hatiku
Harap hari hariku adalah malam
Kuluahkan cinta dan rindu dengan air mata
Lalaiku telah jauhkan diriku dari MahabahMU
Sekarang sedang memahatnya kembali
Do'a do'a sedang kulantunkan khusu'
Kurasakan makin bersinar
Bagai matahari terbit di ufuk timur menuju terang
Sangat indah seperti rembulan purnama
Kairo, juli 2009
Sabtu, 22 Agustus 2009
Seruan Dari Langit
Oleh : Herisuanto mahfudz
Ketika mentari temaram di ufuk barat
menjelang ramadhan disambut
seperti kudengar suara dari langit
jauh; sungguh kuat sangat dekat
mungkinkah suara malaikat
atau syaitan pencuri berta langit
dikejar cambuk api lari terbirit-birit
seperti yang dikatakan baginda Muhammad
Menggema di gendang telinga
seakan tambur genderang perang ditabuh
bergemuruh dalam dada
seakan langit akan runtuh
hadirkan takutku; berpeluk lutut meggigil buat ku lumpuh
Oh... apakah gerangan?
langit akan digulung?
bumi akan digoncang!
kiamat sudah datang!
Wahai engkau ummat Muhammad!
ini bulan berkat segera engkau bertaubat
kuatkan iman bulatkan tekad
ini bulan ampunan dosamu yang lalu dimaafkan
hidangan ganjaran dilipat gandakan
Tuhanmu yang maha rahman telah menjanjikan
Wahai engkau pengikut Muhammad!
berpuasalah dengan mengharap rahmat
tahun depan belum tentu engkau dapat
tinggalkan maksiat malulah dengan Tuhannya Muhammad
jangan sampai di bulan rahmat engkau dilaknat
Wahai engkau umat yang lahir dan kiamat sudah dekat!
pergilah kepada tuhanmu mintalah hadiah
dijanjikan engkau masuk surga dari pintu Arrayaan
beristighasah di saat sahur yang berkah
menangislah minta taqwa dan hidayah
agar hidupmu aman
akheratmu selamat
Kairo, 27 september 2007, 02:25 Am
Sang Pelukis Kata
Aku adalah pelukis kata
kata yang berserakan
di kepala
di hati
di jalanan
kata kata yang sedang kurangkai
aku campur dengan bingkai cinta
aku campur dengan bingkai benci
menjadi bait bait puisi
melukis rasaku dan alam
Akulah adalah pelukis kata
kata yang berserakan
di sungai
di hutan
di lautan
Kata kata yang kurangkai
aku bungkus dengan bingkai cinta
aku bungkus dengan bingkai benci
menjadi syair syair
melukis kisah kisah perjalanan
diriku dan alam
Diriku dan alam
Adalah pelukis kata
Syair yang terlukis adalah Aku
Kairo, 19 mei 2009
Ranjang kosong
Biasa
Pada tiap tiap malam aku tidur setelah larut
Waktu bulan sudah naik tinggi
Udara dingin semakin menusuk
Ketika pikiran dan angan terbang tak karuan
Eh..., Ranjang yang aku pandang kosong
Kosong..., terus begitu tiap tiap malam kesepianku
Indahnya bila ada sosok betina terbaring menanti
Hah...!, kadang letih bila memikirkan tentang makhluk antik ini
Walau kadang kudaku seperti tak mau dikendalikan
Moga tali kekang kuat... Harap tak putus!
Perjuangan besar untuk jaga perjaka
Sungguh aku benar benar terlalu iri
Lihat pengantin di musim dingin
kairo 18 juni 2009
Rabu, 08 Juli 2009
Thursina

Seperti berjalan menuju langit
Menapaki berjuta tangga penuh makna
Kaki terseok seok menggigil
Hilang semua keangkuhan
Menaklukan bukit bukit terjal
Kuatkan tekat aku terus harus melangkah
Hendak sampai ke puncaknya sebelum matahari
Menoreh asa di Puncak Jabal suci Musa
Summer Tour KSMR-Mesir
Kiro, 3 Juli 2009
Balek Ujian
Balek Ujian
Kemana kepala otakku berpikir
Suntuk kepala rasa nak pecah
Yang aku terpandang
Semua kumaki, kusumpah, kukutuk
Asal lihat saja nak marah
Amarah tak tahu untuk siapa, entahlah...
yang penting marah...marah...!
Lelah menunggu bus, naik bus berdiri gelayutan, sesak sumpek bau ketek
Angin menghempas panas, Pasir terbang panas
Sampai rumah, badan kepanasan, kipas angin rusak
Makan nasi panas, sambal pedas, minum air Panas
Keringat bau asem, menetes netes asin
Mau mandi buka kran air , air keluar panas,
Tambah panas hatiku
Kepala otak buntu
Kairo, Musim panas, 30 Juni 2009
Rabu, 24 Juni 2009
Waktu
Setiap yang ada akan tiada
Karna adanya ada sebab adanya tiada
Waktu ini telah sedang benar benar berjalan
Yang akan datang belum sampai
sekarang harus selalu melukisnya elok elok
Waktu waktu yang berlalu dan telah hilang
Kenangan manis atau masam kita lukis di perjalanan
Dan waktu waktu Aku dan Kamu saat ini
Kita sedang menikmati kehidupan
Yang akan datang
Kita sedang menunggunya
Waktu waktu yang akan datang
Adalah masa depan
Kita tidak akan pernah tahu masa depan
Hitam atau merah
Tertawa atau menangis
Bernapas atau tidak perlu bernapas lagi
Semua bertabir misteri dan gaib
Perjuangan dan pengorbanan
turut menyertai sang waktu
Langkah langkah kita adalah penentu
Nilai kita ditentukan oleh langkah langkah kita
Kita bernilai jika selalu menebar cinta
Bila cinta disebar akan berhembus kedamaian
Damai akan menyulap dunia seperti surga
Syurga tempat menuai bahagia
Kairo 1 mei 2009
